Desire - Forum Community
Welcome to DESIRE Forum Community !!!.


Silakan LOGIN/REGISTRASI untuk dapat menjelajah & menikmati fitur serta fasilitas yang ada pada forum ini !.

Best Regards



 
IndeksGalleryPendaftaranLogin
Dengan mendaftar / Registrasi di DESIRE-Forum .Anda dapat mengakses semua fitur serta fasilitas yang ada pada forum ini.

Share | 
 

 Prasasti Batu Tulis

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
_KSaTRia_
Masih ABG
 Masih ABG


Posts Posts : 32
Joined Joined : 01.10.11

PostSubyek: Prasasti Batu Tulis   Sun Oct 16, 2011 11:01 pm

PRASASTI BATUTULIS

Prasasti
Batutulis geus dialihaksarakeun ku sababaraha urang ahli, di antarana
Friederich (1853), Holle (1869), Pleyte (1911), Purbacaraka (1921),
jeung Noorduyn (1957). Ku Saléh Danasasmita, alihaksarana téh kieu,
0 0 wang na pun ini sakakala, prebu ratu purané pun, diwastu
diya wingaran prebu guru déwataprana diwastu diya dingaran sri
baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dé-
wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang nis-
kala sa(ng) sida-mokta di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu
ka(n)cana sa(ng), sida-mokta ka nusalara(ng), ya siya nu nyiyan sakaka-
la gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga
rena mahawijaya, ya siya pun 0 0 i saka, panca panda-
wa '(m)ban bumi 0 0

Pakuan
Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah pusat pemerintahan
Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang selama beberapa abad (abad ke-7
hingga abad ke-16) pernah berdiri di wilayah barat pulau Jawa. Lokasi
Pakuan Pajajaran berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang.Daftar isi
[sembunyikan]

1 Pengantar
2 Lokasi Pakuan
2.1 Naskah kuno
2.2 Berita-berita VOC
2.2.1 Laporan Scipio
2.2.2 Laporan Adolf Winkler (1690)
2.2.3 Laporan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709)
2.3 Hasil Penelitian
3 Pemerintahan di Pakuan Pajajaran

PENGANTAR

Hampir
secara umum penduduk Bogor mempunyai keyakinan bahwa Kota Bogor
mempunyai hubungan lokatif dengan Kota Pakuan, ibukota Pajajaran.
Asal-usul dan arti Pakuan terdapat dalam berbagai sumber. Di bawah ini
adalah hasil penelusuran dari sumber-sumber tersebut berdasarkan urutan
waktu:
Naskah Carita Waruga Guru
(1750-an). Dalam naskah berbahasa Sunda Kuna ini diterangkan bahwa nama
Pakuan Pajajaran didasarkan bahwa di lokasi tersebut banyak terdapat
pohon Pakujajar.
K.F. Holle (1869). Dalam
tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg (Batutulis di Bogor),
Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama
Cipaku, beserta sungai yang memiliki nama yang sama. Di sana banyak
ditemukan pohon paku. Jadi menurut Holle, nama Pakuan ada kaitannya
dengan kehadiran Cipaku dan pohon paku. Pakuan Pajajaran berarti pohon
paku yang berjajar ("op rijen staande pakoe bomen").
G.P.
Rouffaer (1919) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe
tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian "paku", akan tetapi harus
diartikan "paku jagat" (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi
raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. "Pakuan" menurut
Fouffaer setara dengan "Maharaja". Kata "Pajajaran" diartikan sebagai
"berdiri sejajar" atau "imbangan" (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer
adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun
Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya
dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti
"Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja)
Majapahit". Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa
Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433.
R.
Ng. Poerbatjaraka (1921). Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg
(Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata "Pakuan" mestinya
berasal dari bahasa Jawa kuno "pakwwan" yang kemudian dieja "pakwan"
(satu "w", ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang
Sunda kata itu akan diucapkan "pakuan". Kata "pakwan" berarti kemah atau
istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti "istana
yang berjajar"(aanrijen staande hoven).
H.
Ten Dam (1957). Sebagai Insinyur Pertanian, Ten Dam ingin meneliti
kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi
perkembangan sejarah. Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran
(Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian "Pakuan" ada hubungannya
dengan "lingga" (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti
Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita
Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang
dianggapnya masih mempunyai pengertian "paku".
Ia
berpendapat bahwa "pakuan" bukanlah nama, melainkan kata benda umum
yang berarti ibukota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Kata
"pajajaran" ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk
laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi
istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara Sungai Besar dengan
Sungai Tanggerang (disebut juga Ciliwung dan Cisadane). Ten Dam menarik
kesimpulan bahwa nama "Pajajaran" muncul karena untuk beberapa kilometer
Ciliwung dan Cisadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam
pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau "Dayeuh Pajajaran".
Sebutan
"Pakuan", "Pajajaran", dan "Pakuan Pajajaran" dapat ditemukan dalam
Prasasti Batutulis (nomor 1 & 2) sedangkan nomor 3 bisa dijumpai
pada Prasasti Kebantenan di Bekasi.
Dalam
naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi "Sang Susuktunggal,
inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja
Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana
Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata" (Sang
Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri
Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di
keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan
Sanghiyang Sri Ratu Dewata).
Sanghiyang
Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut
"pakuan" itu adalah "kadaton" yang bernama Sri Bima dan seterunya.
"Pakuan" adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton,
kedaton atau istana. Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan
arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu "istana yang
berjajar". Tafsiran tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama
istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri
sendiri. Diperkirakan ada lima (5) bangunan keraton yang masing-masing
bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Inilah mungkin
yang biasa disebut dalam peristilahan klasik "panca persada" (lima
keraton). Suradipati adalah nama keraton induk. Hal ini dapat
dibandingkan dengan nama-nama keraton lain, yaitu Surawisesa di Kawali,
Surasowan di Banten dan Surakarta di Jayakarta pada masa silam.
Karena
nama yang panjang itulah mungkin orang lebih senang meringkasnya,
Pakuan Pajajaran atau Pakuan atau Pajajaran. Nama keraton dapat meluas
menjadi nama ibukota dan akhirnya menjadi nama negara. Contohnya : Nama
keraton Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang meluas
menjadi nama ibukota dan nama daerah. Ngayogyakarta Hadiningrat dalam
bahasa sehari-hari cukup disebut Yogya.
Pendapat
Ten Dam (Pakuan = ibukota ) benar dalam penggunaan, tetapi salah dari
segi semantik. Dalam laporan Tome Pires (1513) disebutkan bahwa bahwa
ibukota kerajaan Sunda itu bernama "Dayo" (dayeuh) dan terletak di
daerah pegunungan, dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa di muara
Ciliwung. Nama "Dayo" didengarnya dari penduduk atau pembesar Pelabuhan
Kalapa. Jadi jelas, orang Pelabuhan Kalapa menggunakan kata "dayeuh"
(bukan "pakuan") bila bermaksud menyebut ibukota. Dalam percakapan
sehari-hari, digunakan kata "dayeuh", sedangkan dalam kesusastraan
digunakan "pakuan" untuk menyebut ibukota kerajaan.
Untuk
praktisnya, dalam tulisan berikut digunakan "Pakuan" untuk nama ibukota
dan "Pajajaran" untuk nama negara, seperti kebiasaan masyarakat Jawa
Barat sekarang ini.

LOKASI KUNO
NASKAH KUNO

Dalam
kropak (tulisan dari daun lontar atau daun nipah yang diberi nomor 406
di museum pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan..
Kropak 406 sebagian telah diterbitkan (biasa tulisan dari daun lontar
tulisan dari daun lontar atau daun nipah yang diberi daun nipah yang
diberi nomor 406 di Museum Pusat ontar atau daun nipah yang diberi nomor
406 di Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi
Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama Carita
Parahiyangan. Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut fragmen
K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri Bima,
Punta, Narayana Madura Suradipati:
"Di
inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta
Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja
Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Ci Pakancilan. Katimu
Bagawat Sunda Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun
Maharaja Tarusbawa."
(Di sanalah bekas
keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kadatuan Bima Punta
Narayana Madura Suradipati. Setelah selesai [dibangun] lalu diberkati
oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. Dicari ke hulu Ci
Pakancilan. Ditemukanlah Bagawat Sunda Majayati. Oleh Bujangga Sedamanah
dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).
Dari
sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak kraton diketaui bhawa Dari
sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak kraton tidak akan terlalu
jauh dari hulu Ci Pakancilan. Hulu Sungai ini terletak di dekat lokasi
kampung lawang Dari sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak keraton
tidak akan terlalu jauh dari "hulu Ci Pakancilan". Hulu sungai ini
terletak di dekat lokasi kampung Lawanggintung yang sekarang, sebab ke
bagian hulu sungai ini disebut Ciawi. Dari naskah itu pula kita
mengetahui bahwa sejak jaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Ci
Pakancilan. Hanyalah juru pantun kemudian menerjemahkannya menjadi Ci
Peucang. Dalam bahasa Sunda Kuna dan Jawa Kuna kata "kancil" memang
berarti "peucang".
BERITA-BERITA VOC

Laporan
tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan
ekspedisi pasukan VOC ("Verenigde Oost Indische Compagnie"/Perserikatan
Kumpeni Hindia Timur) yang oleh bangsa kita lumrah disebut Kumpeni.
Karena Inggris pun memiliki perserikatan yang serupa dengan nama EIC
("East India Company"), maka VOC sering disebut Kumpeni Belanda dan EIC
disebut Kumpeni Inggris.
Setelah mencapai
persetujuan dengan Cirebon (1681), Kumpeni Belanda menandatangani
persetujuan dengan Banten (1684). Dalam persetujuan itu ditetapkan
Cisadane menjadi batas kedua belah pihak.

LAPORAN SCIPIO

Dua catatan penting dari ekspedisi Scipio adalah:
Catatan
perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan
melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik "Unitex" sekarang. Catatannya
adalah sbb.: "Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah
lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan,
tampaknya pernah dihuni".
Lukisan jalan
setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat "Melewati dua buah jalan
dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit".
Dari anggota pasukannya, Scipio memperoleh penerangan bahwa semua itu
peninggalan dari Raja Pajajaran.
Dari
perjalanannya disimpulkan bahwa jejak Pajajaran yang masih bisa
memberikan "kesan wajah" kerajaan hanyalah "Situs Batutulis".
Penemuan
Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada
atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember
1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, "dat hetselve
paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers
bewaakt ent bewaart wort" (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat
duduk yang ditinggikan untuk raja "Jawa" Pajajaran sekarang masih
berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau).
Rupanya
laporan penduduk Parung Angsana ada hubungannya dengan seorang anggota
ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28
Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau
dan ini telah menumbuhkan khayalan adanya hubungan antara Pajajaran
yang sirna dengan keberadaan harimau.

LAPORAN ADOLF WINKLER(1690)

Laporan
Scipio menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian
dibentuk kembali team ekspedisi dipimpin oleh Kapiten Winkler. Pasukan
Winkler terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta
seorang ahli ukur.
Perjalanan ringkas ekspedisi Winkler adalah sebagai berikut :
Seperti
Scipio, Winkler bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah
Baru) lalu ke selatan. Ia melewati jalan besar yang oleh Scipio disebut
"twee lanen". Hal ini tidak bertentangan Scipio. Winkler menyebutkan
jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku.
Karena itu ia hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang
berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.
Setelah
melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi "parit Pakuan yang
dalam dan berdinding tegak ("de diepe dwarsgragt van Pakowang") yang
tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah
tenggara 20 menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54)
sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). Satu
menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2
menit perjalanan dengan berkuda santai.
Bila
kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara
Parung AngsanaBila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa
jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di
mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa
kompleks "Unitex" itu pada jaman Pajajaran merupakan "Kebun Kerajaan".
Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti "tanam, tanaman atau kebun".
Tajur Agung sama artinya dengan "Kebon Gede atau Kebun Raya". Sebagai
kebun kerajaan, Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga
kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon
durian pada kedua sisinya.Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah
Batutulis menempuh jalan yang kelak (1709) dilalui Van Riebeeck dari
arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik
paku "Tulus Rejo" sekarang). Di situlah letak Kampung Lawang Gintung
pertama sebelum pindah ke "Sekip" dan kemudian lokasi sekarang (bernama
tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada
penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di
sana ada pohon Gintung.
Di Batutulis
Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut
penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan ("het
conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben"). Setelah diukur,
lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan tujuh (7)
batang pohon beringin.
Di dekat jalan
tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah.
Jalan berbatu itu terletak sebelum Winkler tiba di situs Bautulis, dan
karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca ("Purwa
Galih"), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat
batu bertulis (prasasti). Antara jalan berbatu dengan batu besar yang
indah dihubungkan oleh "Gang Amil". Lahan di bagian utara Gang Amil ini
bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung). Bale kambang ini adalah
untuk bercengkrama raja. Contoh bale kambang yang masih utuh adalah
seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali.
Dengan
indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan
yang dibatasi Jalan Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan),
bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan "benteng
batu" yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasasti (sisi
utara). Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon
beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan
Bondongan sekarang.
Dari Gang Amil,
Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa "Istana
Pakuan" itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu
berisi tulisan sebanyak 8 1/2 baris (Ia menyebut demikian karena baris
ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup).
Yang
penting adalah untuk kedua batu itu Winkler menggunakan kata "stond"
(berdiri). Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 th (sejak
Pajajaran burak, bubar atau hancur, oleh pasukan Banten th 1579),
batu-batu itu masih berdiri, masih tetap pada posisi semula.
Dari
tempat prasasti, Winkler menuju ke tempat arca (umum disebut
Purwakalih, 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih). Di sana
terdapat tiga buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung
Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat
dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati
Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk pupuh 1862. Penyadur
naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga
penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara
"Kabuyutan" Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi.
Menurut babad ini, "pohon campaka warna" (sekarang tinggal tunggulnya)
terletak tidak jauh dari alun-alun.
LAPORAN ABRAHAM VAN RIEBEECK(1703,1704,1709)

Abraham
adalah putera Joan van Riebeeck pendiri Cape Town di Afrika Selatan.
Penjelajahannya di daerah Bogor dan sekitarnya dilakukan dalam kedudukan
sebagai pegawai tinggi VOC. Dua kali sebagai Inspektur Jenderal dan
sekali sebagai Gubernur Jenderal. Kunjungan ke Pakuan tahun 1703
disertai pula oleh istrinya yang digotong dengan tandu.
Rute
perjalanan tahun 1703: Benteng - Cililitan - Tanjung - Serengseng -
Pondok Cina - Depok - Pondok Pucug (Citayam) - Bojong Manggis (dekat
Bojong Gede) - Kedung Halang - Parung Angsana (Tanah Baru).
Rute
perjalanan tahun 1704: Benteng - Tanah Abang - Karet - Ragunan -
Serengseng - Pondok Cina dan seterusnya sama dengan rute 1703.
Rute
perjalanan tahun 1709: Benteng - Tanah Abang - Karet - Serengseng -
Pondok Pucung - Bojong Manggis - Pager Wesi - Kedung Badak - Panaragan.
Berbeda
dengan Scipio dan Winkler, van Riebeeck selalu datang dari arah Empang.
Karena itu ia dapat mengetahui bahwa Pakuan terletak pada sebuah
dataran tinggi. Hal ini tidak akan tampak oleh mereka yang memasuki
Batutulis dari arah Tajur. Yang khusus dari laporan Van Riebeeck adalah
ia selalu menulis tentang "de toegang" (jalan masuk) atau "de opgang"
(jalan naik) ke Pakuan.
BEBERAPA HAL YANG DAPAT DIUNGKAPKAN DARI KETIGA PERJALANAN VAN RIEBEECK ADALAH:

Alun-alun
Empang ternyata bekas alun-alun luar pada zaman Pakuan yang dipisahkan
dari benteng Pakuan dengan sebuah parit yang dalam (sekarang parit ini
membentang dari Kampung Lolongok sampai Ci Pakancilan).
Tanjakan
Bondongan yang sekarang, pada jaman Pakuan merupakan jalan masuk yang
sempit dan mendaki sehingga hanya dapat dilalui seorang penunggang kuda
atau dua orang berjalan kaki.
Tanah rendah
di kedua tepi tanjakan Bondongan dahulu adalah parit-bawah yang terjal
dan dasarnya bersambung kepada kaki benteng Pakuan. Jembatan Bondongan
yang sekarang dahulunya merupakan pintu gerbang kota.
Di belakang benteng Pakuan pada bagian ini terdapat parit atas yang melingkari pinggir kota Pakuan pada sisi Ci Sadane.
Pada
kunjungan tahun 1704, di seberang "jalan" sebelah barat tempat patung
"Purwa Galih" ia telah mendirikan pondok peristirahatan ("somerhuijsje")
bernama "Batutulis". Nama ini kemudian melekat menjadi nama tempat di
daerah sekitar prasasti tersebut.

HASIL PENELITIAN


Prasasti
Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan
"cetakan tangan" untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan
pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah
ada empat orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M.
Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami
isi prasasti itu.
Hasil penelitian Pleyte
dipublikasikan tahun 1911 (penelitiannya sendiri berlangsung tahun
1903). Dalam tulisannya, Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg
atau "Angka tahun pada Batutulis di dekat Bogor", Pleyte menjelaskan,
"Waar
alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten,
het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran's
koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar
eenige preciseering in deze te trachten".
(Dalam
hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih terpercaya,
kampung Batutulis yang sekarang terarah sebagai tempat puri kerajaan
Pajajaran; masalah yang timbul tinggalah menelusuri letaknya yang
tepat).
Sedikit kotradiksi dari Pleyte:
meski di awalnya ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton,
tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh
wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang. Pleyte mengidentikkan puri
dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati
dengan Pakuan sebagai kota.
Babad
Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas "Dalem Kitha" (Jero kuta)
dan "Jawi Kitha" (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah "kota dalam"
dan "kota luar". Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero
Kuta yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi
dengan Jalan Batutulis.
Peneliti lain
seperti Ten Dam menduga letak keraton di dekat kampung Lawang Gintung
(bekas) Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk
pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan
Salmun kurang ditunjang data kepurbakalaan dan sumber sejarah. Dugaannya
hanya didasarkan pada anggapan bahwa "Leuwi Sipatahunan" yang termashur
dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ci Liwung di dalam Kebun
Raya Bogor. Menurut kisah klasik, leuwi (lubuk) itu biasa dipakai
bermandi-mandi para puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa
letak istana tentu tak jauh dari "Leuwi Sipatahunan" itu.
Pantun
Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen "Cakrabirawa"
(Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari
kerajaan bernama "Mila Kencana". Namun hal ini juga kurang ditunjang
sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan
dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk
pertahanan Kota Pakuan. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam
berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian
tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula
ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawanggintung
yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini "Kuta Maneuh".
Sebenarnya
hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler
(kunjungan ke Batutulis 14 Juni 1690). Kunci laporan Winkler tidak pada
sebuah hoff (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada
kata "paseban" dengan tujuh batang beringin pada lokasi Gang Amil.
Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada
pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas "balay" yang lama.
Panelitian
lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah
Lawangsaketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma,
"Lawang Saketeng" berarti "porte brisee, bewaakte in-en uitgang" (pintu
gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawangsaketeng
tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.
Benteng
pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal
ke ujung lembah Ci Pakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang
Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading. Setelah menyilang Jalan
Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut.
Deretan pertokoan antara Jalan Suryakencana dengan Jalan Roda di bagian
ini sampai ke Gardu Tinggi sebenarnya didirikan pada bekas pondasi
benteng.
Selanjutnya benteng tersebut
mengikuti puncak lembah Ci Liwung. Deretan kios dekat simpangan Jalan
Siliwangi - Jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng.
Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang
membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut
sepanjang puncak lereng Ci Liwung melewati kompleks perkantoran PAM,
lalu menyilang Jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok
lurus ke barat daya menembus Jalan Siliwangi (di sini dahulu terdapat
gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.
Di
Kampung Lawanggintung benteng ini bersambung dengan "benteng alam"
yaitu puncak tebing Ci Paku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta
Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur
rel kereta api sampai di tebing Ci Pakancilan setelah melewati lokasi
Jembatan Bondongan. Tebing Ci Pakancilan memisahkan "ujung benteng"
dengan "benteng" pada tebing Kampung Cinca
PEMERINTAHAN DI PAKUAN PAJAJARAN

Kejatuhan
Prabu Kertabumi (Brawijaya V) Raja Majapahit tahun 1478 telah
mempengaruhi jalan sejarah di Jawa Barat. Rombongan pengungsi dari
kerabat keraton Majapahit akhirnya ada juga yang sampai di Kawali. Salah
seorang diantaranya ialah Raden Baribin saudara seayah Prabu Kertabumi.
Ia diterima dengan baik oleh Prabu Dewa Niskala bahkan kemudian
dijodohkan dengan Ratna Ayu Kirana (puteri bungsu Dewa Niskala dari
salah seorang isterinya), adik Raden Banyak Cakra (Kamandaka) yang telah
jadi raja daerah di Pasir Luhur. Disamping itu Dewa Niskala sendiri
menikahi salah seorang dari wanita pengungsi yang kebetulan telah
bertunangan.
Dalam Carita Parahiyangan
disebutkan "estri larangan ti kaluaran". Sejak peristiwa Bubat, kerabat
keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.
Selain itu, menurut "perundang-undangan" waktu itu, seorang wanita yang
bertunangan tidak boleh menikah dengan laki-laki lain kecuali bila
tunangannya meninggal dunia atau membatalkan pertunangan.
Dengan
demikian, Dewa Niskala telah melanggar dua peraturan sekaligus dan
dianggap berdosa besar sebagai raja. Kehebohan pun tak terelakkan.
Susuktunggal (Raja Sunda yang juga besan Dewa Niskala) mengancam
memutuskan hubungan dengan Kawali. Namun, kericuhan dapat dicegah dengan
keputusan, bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama
mengundurkan diri. Akhirnya Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta
Kerajaan Galuh kepada puteranya Jayadewata. Demikian pula dengan Prabu
Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini
(Jayadewata).
Dengan peristiwa yang
terjadi tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali
dalam satu tangan. Jayadewata memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan
sebagai "Susuhunan" karena ia telah lama tinggal di sini menjalankan
pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi
pusat pemerintahan.

Masa Akhir Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran berlangsung selama 97 tahun, yang secara berturut-turut dipimpin oleh

Sri Baduga Maharaja (1482 - 1521)
Surawisesa (1521 - 1535)
Ratu Dewata (1535 - 1534)
Ratu Sakti (1543 - 1551)
Ratu Nilakendra (1551 - 1567)
Raga Mulya (1567 - 1579)

Prasasti
Batutulis terletak di jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan
Bogor Selatan, Kota Bogor. Kompleks Prasasti Batutulis memili luas 17 x
15 meter. Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan kerajaan
Pajajaran terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir
kalimat-kalimat dengan huruf Sunda Kawi.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 

Prasasti Batu Tulis

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Desire - Forum Community :: Cafe :: Sejarah Nasional-
Navigasi: